(Humas IAIN Curup) - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup menggelar Kuliah Iftitah Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027 di Aula Rektorat IAIN Curup, Rabu (26/8/2026). Kegiatan yang diikuti mahasiswa baru ini menghadirkan Direktur Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Kementerian PPN/Bappenas RI, Endang Sulastri, S.Sos., MPP., bersama Perencana Direktorat Pendidikan Tinggi dan Iptek Ahmad Kholil, S.Pd. dan Mahmud Rofi’i, M.Ed.Lead.
Kuliah Iftitah mengangkat tema besar pembangunan pendidikan tinggi dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, dengan materi utama bertajuk “Dari Perguruan Tinggi untuk Indonesia: Membangun Insan, Menggerakkan Peradaban.” Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh semangat. Para mahasiswa baru tampak antusias mengikuti pemaparan mengenai tantangan pendidikan tinggi, transformasi teknologi, kecerdasan buatan, pembangunan sumber daya manusia, serta peran generasi muda dalam menghadapi perubahan global.
Turut hadir Rektor IAIN Curup Prof. Dr. Idi Warsah, M.Pd.I., Wakil Rektor I Dr. Eka Apriani, M.Pd., Wakil Rektor II Dr. Sakut Anshori, S.Pd.I., M.Hum., Wakil Rektor III Dr. Sagiman, M.Kom., Kepala Biro AUAK Puji Edi Purnomo, S.Sos.I., M.Hum., Direktur Pascasarjana, para dekan dan wakil dekan, ketua program studi, serta kepala lembaga dan unit di lingkungan IAIN Curup.
Dalam sambutannya, Rektor IAIN Curup Prof. Dr. Idi Warsah, M.Pd.I. menyampaikan selamat datang kepada jajaran Kementerian PPN/Bappenas RI. Ia sekaligus menyampaikan perkembangan IAIN Curup yang terus berbenah dan mempersiapkan diri menuju transformasi kelembagaan menjadi universitas.
“Secara luas lahan, fasilitas, dan infrastruktur yang sudah dibangun sangat memungkinkan bagi kami IAIN Curup bertransformasi menjadi UIN. Setelah Kuliah Iftitah ini, kami juga berharap Ibu Endang Sulastri berkenan melihat secara langsung berbagai fasilitas dan bangunan SBSN yang telah berdiri di IAIN Curup,” ujar Rektor.
Prof. Idi menjelaskan, IAIN Curup saat ini memiliki tiga fakultas dengan 30 program studi dan sekitar 7.400 mahasiswa, belum termasuk mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027. Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap IAIN Curup sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam.
Rektor berharap kehadiran narasumber dari Kementerian PPN/Bappenas dapat membuka wawasan sekaligus memberikan motivasi kepada mahasiswa baru yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang.
“Mahasiswa datang ke IAIN Curup dengan membawa amanah dan harapan orang tua untuk meraih masa depan yang lebih baik. Karena itu, kami berharap ilmu dan wawasan yang diberikan pada Kuliah Iftitah ini dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa baru untuk belajar dengan sungguh-sungguh, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan,” ungkapnya.
Ia juga berpesan agar mahasiswa mengikuti proses perkuliahan dengan baik dan menjaga nama baik almamater. Khusus mahasiswa yang berasal dari luar Kabupaten Rejang Lebong, Rektor mengingatkan pentingnya menghormati serta menyesuaikan diri dengan adat istiadat dan nilai-nilai masyarakat setempat.
Memasuki sesi utama, Endang Sulastri memaparkan tantangan pembangunan manusia dan pendidikan tinggi di tengah perubahan global. Ia menjelaskan bahwa dunia menghadapi dinamika geopolitik dan ekonomi, ketimpangan pembangunan, disrupsi teknologi dan dunia kerja, kerentanan energi dan rantai pasok, serta krisis lingkungan dan perubahan iklim. Kondisi tersebut menuntut perguruan tinggi menjadi institusi yang semakin tangguh dan adaptif serta mampu mempersiapkan lulusan dengan kompetensi yang relevan.
Menurutnya, momentum bonus demografi Indonesia harus dimanfaatkan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan tinggi memiliki peran strategis untuk melahirkan generasi yang produktif, berdaya saing, inovatif, serta mampu berkontribusi terhadap pencapaian Indonesia Emas 2045.
Dalam konteks perguruan tinggi Islam, Endang menyoroti potensi besar untuk membangun keunggulan akademik berbasis Islamic Studies, memperkuat kualitas riset dan inovasi, serta menciptakan diferensiasi keunggulan institusi melalui integrasi keislaman, sains-teknologi, sosial-humaniora, dan kebutuhan pembangunan.
Transformasi perguruan tinggi Islam, lanjutnya, perlu diarahkan pada empat aspek utama, yakni peningkatan kualitas akademik dan kelembagaan, penguatan pengetahuan dan kompetensi mahasiswa, pengembangan riset dan inovasi, serta perluasan jejaring kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi dalam dan luar negeri, dunia usaha, masyarakat, alumni, dan mitra global.
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) turut menjadi perhatian penting dalam materi. Pemanfaatan AI di kalangan mahasiswa berkembang sangat cepat dan dapat membantu proses pencarian ide, penulisan, tinjauan literatur, pengelolaan data, hingga komunikasi ilmiah. Namun, teknologi tersebut harus ditempatkan sebagai alat pendukung proses berpikir, bukan pengganti kemampuan intelektual mahasiswa.
Endang mengingatkan bahwa kemampuan AI menghasilkan informasi harus diimbangi kemampuan mahasiswa melakukan verifikasi sumber, berpikir kritis, serta menjaga orisinalitas dan integritas akademik. Pemanfaatan AI secara bertanggung jawab harus memperhatikan kualitas, keamanan data, transparansi, akuntabilitas, serta etika akademik.
Pesan utama yang disampaikan kepada mahasiswa adalah bahwa kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter. Mahasiswa masa depan tidak cukup hanya menguasai informasi, tetapi harus mampu menciptakan nilai baru, berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, memecahkan masalah, serta menjadi pembelajar sepanjang hayat.
“Masa depan tidak untuk ditunggu, tetapi untuk dipersiapkan, dihadapi, dan dimenangkan,” menjadi salah satu pesan kunci dalam materi yang disampaikan.
Mahasiswa didorong untuk menguasai ilmu secara mendalam, membangun keterampilan yang melampaui satu bidang, terus belajar sepanjang hayat, serta tetap berpegang teguh pada nilai dan integritas. Dengan karakter tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjadi pembelajar mandiri sekaligus mitra perubahan dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Melalui Kuliah Iftitah ini, IAIN Curup berharap mahasiswa baru tidak hanya siap memasuki proses perkuliahan, tetapi juga memiliki perspektif yang lebih luas mengenai masa depan pendidikan, teknologi, dan pembangunan bangsa. Mahasiswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang berilmu, adaptif, kreatif, berintegritas, serta mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab.
Kegiatan ini juga diharapkan semakin memperkuat komitmen IAIN Curup dalam melakukan transformasi kelembagaan, meningkatkan kualitas akademik dan riset, memperluas jejaring strategis, serta mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Penulis: Pauzar Putra Utama
Editor: Ibnu Amin
Fotografer: Ahmad Annizar &Afriza Krisdayanti